Beberapa hari belakangan ini pemberitaan tentang aliran sesat yang menamakan kelompoknya al-qiyadah al-islamiyyah amat sering muncul di televisi. Saya sendiri pertama kali mendengar tentang aliran ini dari Ustadz DR. Ibdalsyah pada salah satu Kuliah Subuh di Masjid Baitussalaam, Perumahan Bogor Raya Permai. Berita teve menayangkan proses pembacaan syahadatain (dua kalimat syahadat) dengan syahadat kedua berisi pengakuan bahwa Ahmad Moshaddeq, si pemimpin kelompok, adalah rasul utusan Allah. Sebuah pemikiran sesat, sebab ajaran Islam mengimani bahwa Nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir yang diutus Allah swt*.
Dari berita juga diketahui bahwa kelompok yang dipimpin Moshaddeq ini tidak mengakui kewajiban sholat lima waktu. Mereka diajari bahwa saat ini anggota kelompok hanya wajib sholat malam. Sebuah pemikiran sesat yang berulang kali terjadi, disebabkan ketidaktahuan dan ketidakmengertian dalam memahami syariat Islam.
Memang benar ada dalam sejarah ketika Nabi Muhammad saw masih hidup, di mana umat Islam belum menerima perintah sholat wajib lima waktu. Saat itu Nabi dan sahabat-sahabatnya melaksanakan kewajiban sholat malam (qiyamul lail). Akan tetapi tidak pernah ada dalam sejarah sahabat dan salafush sholih melakukan penarikan kesimpulan untuk kembali memasuki masa "tidak wajibnya sholat lima waktu"!
Masih ada ajaran-ajaran sesat yang diajarkan Moshaddeq kepada pengikutnya, seperti belum diwajibkannya berhaji dan lain-lain. Oleh karenanya MUI sudah mengeluarkan fatwa tentang kesesatan aliran ini**. Pimpinan-pimpinan ormas Islam lainnya pun sudah menyampaikan peringatan akan kesesatan aliran ini. Beberapa ormas melakukan demonstrasi meminta pemerintah untuk segera menindak tegas pimpinan kelompok ini. Sebagiannya malah memberi ultimatum akan bertindak sendiri kalau pemerintah hanya berdiam diri saja.
Yang ingin saya catat di sini adalah, pertama lahirnya aliran sesat seperti ini adalah "kecolongannya" para ulama dan pendakwah Islam, dengan merebaknya pemikiran dan keyakinan yang sesat ini. Sungguh tidak bisa dipercaya ada di kalangan umat Islam yang terpedaya dengan ajaran yang sangat bertentangan dengan aqidah mendasar, seperti adanya yang mengaku-ngaku sebagai Nabi baru! Tapi begitulah kenyataannya. Peristiwa ini semoga mengingatkan para ulama dan pendakwah ajaran Islam untuk tidak bosan-bosan mengajarkan akidah yang shohih di tengah-tengah umat ini.
Bagi para orang tua muslim, peristiwa ini juga semoga menyadarkan untuk telaten memberikan pengajaran dan pendidikan aqidah yang benar kepada anak-anak sejak dini.
Catatan kedua adalah tentang nama-nama kelompok sesat. Saya merasa heran dan curiga karena nama yang dipilih adalah nama yang baik yang justru hilang dari umat Islam. "Al-Qiyadah al-Islamiyyah" itu sesungguhnya berarti kepemimpinan Islam. Kepemimpinan ini menjadi salah satu pilar penting menuju kebangkitan umat Islam dalam menebarkan rahmat bagi seluruh manusia. Kelemahan kepemimpinan inilah yang menjadi salah satu penyebab terpuruknya negeri-negeri muslim, yaitu ketika pemimpin yang adil absen dari tengah-tengah umat.
Nah, mengapa nama "al-qiyadah al-islamiyyah" ini yang dipilih? Skenario siapa sebenarnya yang menghadirkan nama ini? Jelas dalam pandangan keimanan ini adalah makar atau strategi dari iblis dan para syaithan, musuh abadi mereka yang beriman. Akan tetapi adakah oknum syaithan manusia yang sengaja menghembuskan pemilihan nama ini? Apakah ada tujuan justru supaya umat Islam yang lain kemudian "enggan" menyebut-nyebut tentang al-qiyadah al-islamiyyah yang dalam arti yang benar, yang amat dinanti-nantikan umat ini? Apakah penamaan ini dilakukan mereka yang memang tidak ingin umat ini mendapatkan kepemimpinan yang kuat, solid dan adil? Wallaahu a'lam. Mesti ada penelitian seksama tentang hal ini.
Saya jadi teringat juga dengan kelompok ekstrim yang menyebut dirinya "jama'ah islamiyyah". Sungguh nama ini pun merupakan nama mulia. Di dalamnya menyiratkan adanya komunitas yang saling memahami, bersikap rukun, berkasih sayang, tolong menolong dalam menebarkan kebaikan dan menegakkan kebenaran serta keadilan. Kondisi berjama'ah, bekerja secara kolektif dan harmonis, bahkan menjadi ciri kerja alam semesta. Unsur-unsur alam saling melengkapi dan menyempurnakan. Dari fenomena alam inilah lahir perumusan tentang rantai makanan hingga konsep ekosistem dan istilah webs of life, untuk menggambarkan keteraturan alam dalam kerja kolektifnya.
Ketika nama "jama'ah islamiyyah" ini sekonyong-konyong ditampilkan sebagai wujud sadis, tidak berperikemanusiaan, sikap nekad dan lain-lain, maka ada makna yang salah difahami sebagian umat Islam akan frase "jama'ah islamiyyah". Orang menjadi takut mendengar kata "jama'ah". Padahal umat Islam diperintahkan hidup berjama'ah. Sholat yang menjadi salah satu ibadah utama umat ini, yang penegakkannya menjadi simbol penegakkan ad-dien, akan berlipat ganda pahalanya ketika dilakukan dengan berjama'ah.
Siapa gerangan yang mengangkat dan menggembar-gemborkan nama-nama yang baik ini menjadi "simbol kejahatan"? Apakah ini dilahirkan mereka yang memang tidak ingin umat Islam ini kuat bersatu? Sungguh perlu penelitian seksama untuk mengungkap hal ini.
Catatan ketiga adalah tentang fenomena bisikan sesat yang dianggap wahyu (atau wangsit). Sejauh ini saya belum menemukan tulisan diantara para ulama muslim yang mengangkat masalah ini dalam menanggapi ajaran sesat yang tengah merebak. Sejauh yang saya pahami, memang ada kejadian dimana seseorang bisa memperoleh ilham, akan tetapi bisikan ini justru harus diuji dengan ajaran syariat Islam yang telah diajarkan Nabi Muhammad saw. Apabila bisikan ini sesuai dengan ajaran Islam, maka bolehlah dikuti. Apabila bisikan ini bertentangan dengan ajaran Islam, maka tertolaklah ia untuk diamalkan.
Perlu diadakan investigasi seksama terhadap orang-orang seperti Ahmad Moshaddeq atau siapapun yang mengaku-ngaku mendapatkan wahyu kenabian. Bagaimana perilaku mereka sebenarnya? Kalau mereka bertapa, apa yang mereka lakukan sebenarnya? Investigasi seperti ini akan mengungkap, bagaimana modus syaithan ketika bersekutu dengan manusia melahirkan ajaran-ajaran yang amat sesat. Kepada mereka yang menjadi pimpinan kelompok sesat perlu diberikan tindakan yang tegas sesuai hukum yang berlaku. Penyesatan yang mereka lakukan sungguh amat besar dampak buruknya kepada umat. Bagaimanakah pendapat kita apabila ada ajaran yang mengajak orang terjun memasuki kobaran api yang menyala-nyala? Apa yang dilakukan para pemimpin kelompok sesat ini jauh lebih besar bahayanya daripada ilustrasi barusan, sebab dapat menyebabkan manusia kekal dibakar di neraka jahanam. Na'udzubillaah min dzaalik.
Terakhir, catatan keempat, saya sependapat dengan Ustadz Din Syamsuddin dan beberapa pemimpin umat lain, yang menyeru umat Islam untuk bersikap mengajak korban ajaran sesat agar kembali pada ajaran Islam yang benar. Sikap marah itu diarahkan pada kesesatan ajarannya. Adapun kepada mereka yang tergoda dengan ajaran sesat itu, maka diperlukan usaha-usaha untuk menjelaskan akan sesatnya ajaran yang telah mereka ikuti. Dan usaha dakwah ini tetap mesti mengikuti kaidah dan proses bijaksana, pendidikan dan argumentasi yang kokoh (QS an-Nahl:125).
Bisa jadi pada tersesatnya para pengikut ajaran sesat itu pun ada andil umat Islam yang lain. Wa bil khusus para ulama muslim, sekali lagi, karena mereka kurang intensif mendidik umat Islam. Dan bagi orang Islam lain, karena kurang giatnya membangun kesatuan umat dan saling memahami serta saling menolong.
Di balik setiap kejadian pastilah Allah swt menyimpan hikmah dan pelajaran bagi orang-orang beriman. Semoga lah merebaknya ajaran sesat di tengah umat Islam belakangan ini, mengingatkan umat Islam untuk memurnikan kembali aqidah. Untuk lebih mengkaji ajaran Islam dengan bimbingan ulama muslim yang sholih. Aamiin.
Wallahu a'lamu bish shawwab.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar